Situs Budaya di Perkebunan Teh Blitar yang Belum Banyak Diketahui

Blitar – Tak berlebihan bila Blitar mendapat julukan Bumi Seribu Candi. Sejumlah bangunan candi mulai peninggalan Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, hingga Kerajaan Majapahit tersebar di wilayah Blitar.

Salah satunya, Candi sirah Kencong di Desa Ngadirenggo, Kec. Wlingi, Kab. Blitar. Candi ini berada di ketinggian 1100 mdpl di lereng Gunung Butak Pegunungan Kawi.

Terletak di tengah-tengah hamparan perkebunan teh nan luas, candi ini tampak begitu mengagumkan. Kondisi jalan menuju lokasi candi berupa jalan pegunungan yang berkelok-kelok naik turun. Meski sedikit menantang, akan tapi apa yang akan traveler sekalian peroleh setelah melalui perjalanan ini tak akan mengecewakan.

Meski harus ditempuh dengan jalan kaki dari area perkebunan, dengan suasana perkebunan teh yang menyejukkan, perjalanan naik turun bukit tidak akan terasa melelahkan.

Secara umum Candi Sirah Kencong terdiri dari tiga bangunan pokok, yakni bangunan candi pertama yang terletak di sebalah utara, kemudian candi kedua di tengah, dan bangunan ketiga terletak di sebelah selatan.

Ketiga bangunan tersebut menghadap ke arah Barat. Pada tubuh bangunan Candi Sirah Kencong terdapat beberapa relief yang unik. Relief tersebut tidak timbul seperti relief candi pada umumnya. Relief tersebut tergurat dangkal hanya seperti digores-gores saja.

“Nama Candi Sirah kencong diambil dari tempat keberadaan candi ini, yakni Sirah Kencong. Menurut para ahli belum bisa dipastikan nama asli candi ini dan peninggalan dari kerajaan apa,” terang Purnomo, manager perkebunan teh Sirah Kencong, Minggu (23/1/2020).

Tak diketahui secara pasti sejak kapan ditemukannya candi ini dan peninggalan dari masa kerajaan apa, akan tetapi candi ini memiliki guratan relief yang mengandung beberapa cerita menarik.

Menurutnya, yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah relief yang digambarkan seperti sosok seorang berbadan kurus dalam pose duduk wajrasana. Tangannya direntangkan seolah-olah menyambut ajakan seekor harimau yang membuka mulutnya. Sebagian para ahli menyebutnya sebagai relief Bubuksah dan Gagangaking.

“Pertama kali memasuki area candi kebanyakan pengunjung biasanya langsung penasaran dengan relief ini. Orang-orang biasanya menyebut relief Bubuksah dan Gagangaking, mirip dengan candi yang ada di Candi Penataran,” terangnya

Bila kita lihat lebih detail lagi, di bangunan candi kedua atau candi tengah terdapat guratan membetuk gambar sebuah naga yang disangga oleh beberapa orang. Jika di tarik pada kisah-kisah pewayangan akan mirip dengan peristiwa pengadukan lautan susu yakni kisah Samudra Mantana.

Meski bentuk Candi Sirah Kencong ini terlihat tidak begitu sempurna dan terkesan kurang terawat, akan tetapi ornamennya cukup lengkap. Pada bangunan tengah atau candi ke dua, bingkai bawah dari tingkat pertama terdapat pahatan naga yang kepalanya bertemu dipojok-pojok. Pahatan naga dengan bentuk semacam ini banyak dijumpai pada komplek Candi Penataran.

Berdasarkan pengamatan, Candi Sirah Kencong ini memiliki banyak kesamaan dengan Candi Penataran. Akan tetapi, guratan dan relief-reliefnya nampak begitu sederhana.

“Bisa jadi, dimungkinkan dulunya Candi Sirah Kencong ini difungsikan mirip dengan Candi Penataran, yakni memuja gunung. Kalau disini mungkin untuk memuja Gunung Kawi,” tutup Purnomo.

Info Update Penyebaran Covid19 Di Dunia