0 0

Balekambang, Situs Suci dan Bersejarah dari Blitar

Read Time:5 Minute, 30 Second

Sejarah singkat Situs Balekambang

Balekambang adalah sebuah situs berupa umpak batu yang berada di Dsn/Ds. Penataran Kec. Nglegok. Secara filosofis nama Balekambang berasal dari dua kata yakni bale (tempat persinggahan) dan kambang (mengambang) yang merujuk pada perkiraan wujud asli situs tersebut yakni sebuah bangunan dimana umpak atau bagian bawah tiang bangunannya (saka) tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Dibawah umpak  tersebut terdapat batu bata merah berukuran sedang khas Majapahit yang menjadi alas. Jumlah umpak di Situs Balekambang secara keseluruhan adalah 36 yang diletakkan bersusun dari depan ke belakang. Empat umpak paling depan adalah bagian dari pintu masuk, dua dibelakangnya adalah bagian dari teras, dan 30 umpak yang berjajar hingga belakang adalah bagian utama bale atau bangunan. Jika dilihat dari umpak-umpak yang berjajar terlihat bahwa gambaran Balekambang secara utuh adalah bangunan yang menghadap selatan, namun bukan tidak mungkin bahwa bangunan ini dimasa lalu sebenarnya memiliki arah hadap sebaliknya, hal ini dikarenakan belum adanya penelitian dan penggalian lebih lanjut pada area Situs Balekambang itu sendiri. Penafsiran tentang apa sebenarnya situs ini masih beragam dan berbeda-beda di tiap masyarakat, tak sedikit yang mengatakan bahwa batu-batu yang ada di Balekambang adalah nisan dari makam sehingga anak-anak tidak berani kesana, entah ini suatu upaya untuk menakut-nakuti anak-anak semata atau memang disengaja sebagai upaya untuk menjaga kelestarian Balekambang sebagai sebuah situs suci.

Dari salah satu umpak yang ada di sisi utara tertulis angka tahun 1272 saka atau 1350  Masehi yang diduga menjadi tahun pembuatan Balekambang, pada tahun tersebut raja yang tengah memerintah diperkirakan adalah Tribuwhana Tunggadewi menuju peralihan ke Hayam Wuruk sehingga diduga kuat Balekambang adalah peninggalan Kerajaan Majapahit. Sedari awal, umpak-umpak  yang ada di Situs Balekambang telah tersusun berjajar di atas permukaan tanah, hanya saja arealnya masih berupa kebun dan memiliki kesan cukup angker sehingga warga sekitar yang lewat pun tidak berani mendekat. Barulah pada tahun 2009, Bapak Mukhiyar yang merupakan pensiunan Juru Pelihara Candi Penataran bertekad membersihkan areal tersebut dan merawat situs yang ada, sekaligus membuat laporan kepada pihak terkait atas adanya situs yang kemudian mendapat lisensi dari BPCB Jawa Timur pada tahun 2012. Setelah mendapat izin dari warga setempat, beliau mulai membersihkan areal situs dan secara bertahap terdapat upaya-upaya lain untuk penataan termasuk pemerataan permukaan tanah serta penanaman pohon maja dan beberapa bunga guna memperindah areal situs sekaligus menjadi penanda bahwa Situs Balekambang adalah bagian dari peninggalan Kerajaan Majapahit.

Fungsi Situs Balekambang

Situs Balekambang diyakini memiliki beberapa fungsi baik dimasa lalu maupun masa kini. di masa lalu Balekambang diduga kuat adalah tempat singgah raja-raja dan pejabat penting Kerajaan Majapahit ketika mereka berkunjung ke tlatah Blitar. Selain sebagai tempat singgah, Balekambang juga diyakini menjadi tempat musyawarah para petinggi kerajaan sekaligus berdoa karena areal ini juga merupakan areal suci. Sedangkan dimasa kini, Balekambang banyak difungsikan untuk kepentingan spiritual baik oleh masyarakat sekitar maupun pendatang dari luar kota, seperti meditasi untuk menenangkan diri, ritual-ritual tertentu, sowan atau bertandang ke suatu tempat dengan tujuan spiritual dan menyatu dengan alam, dan tempat ibadah bagi orang-orang tertentu. Tak jarang ada saja masyarakat yang melakukan nyadran dan slametan atau kenduren yang dilakukan secara berkelompok dengan bantuan seorang dukun manten atau lainnya, sebab nyadran atau kenduren ini biasanya memang dilakukan dengan tujuan meminta izin kepada danyang atau yang sosok yang dihormati sebelum melaksanakan hajatan tertentu seperti pernikahan dan khitanan. Karena area sekitar situs masih berupa kebun, seringkali mereka para pencari rumput dan kayu yang kebetulan lewat turut diajak untuk berkumpul melaksanakan kenduren. Selain sebagai sarana permohonan dan doa, kenduren semacam ini sebenarnya juga merupakan sarana pemererat persaudaraan antar masyarakat maupun penduduk lokal dengan pendatang serta sarana berbagi rezeki pada sesama manusia. Kegiatan yang berbau spiritual biasanya dilakukan di berbagai titik yang ada di Balekambang karena dipercaya bahwa seluruh area Balekambang sebenarnya adalah tempat suci, hanya saja terkadang orang yang berkepentingan telah memilih titik-titik tertentu untuk melakukan ritualnya, seperti di bagian depan atau dibagian ujung belakang. Setiap tahunnya tepatnya pada tanggal 27 Juni, ditempat ini juga diselenggarakan Tradisi Tumpeng Agung, nantinya Balekambang adalah titik keberangkatan sekaligus sebagai lokasi para peserta untuk “pamit” sebelum tumpeng dikirab menuju Candi Penataran.

 Selain untuk tujuan  spiritual, sebagian masyarakat juga memanfaatkan Situs Balekambang sebagai tempat untuk mencari peruntungan atau nomor, hal ini biasa dilakukan oleh mereka yang masih melakukan permainan togel tradisional. Layaknya sebuah tempat wisata, Situs Balekambang juga dikunjungi untuk tujuan wisata baik untuk menambah pengetahuan dan mencari pengalaman oleh kalangan mahasiswa dan peneliti maupun sekedar karena keingintahuan anak muda yang hobi mencari spot foto untuk mengisi postingan media sosialnya.

Mitos seputar Situs Balekambang di Masyarakat

Sebagai salah satu situs di Kabupaten Blitar, Situs Balekambang pun memiliki nilai kesakralan dan suci, karenanya bagi pengunjung yang datang diharapkan mampu menerapkan norma-norma kesopanan seperti menjaga sikap dan tingkah laku, tidak mengambil batu ataupun barang secara sembarangan apalagi sampai dibawa pulang, serta tidak memukul-mukul batu atau umpak yang ada. Selain sebagai upaya pemeliharaan, hal ini juga dimaksudkan untuk menghormati “mereka” yang ada di sana sehingga tidak mengganggu apalagi mendatangkan marabahaya. Aura berbeda memang telah ditunjukkan Situs Balekambang sejak dulu, Mas Ari (28) menuturkan, diatas umpak-umpak tersebut terkadang nampak berbagai perhiasan emas sebagai penguji keteguhan batin atau keimanan seseorang. Ada juga macan berwarna loreng, putih, maupun macan kumbang hitam (ghaib) yang terlihat berjalan dari Balekambang melewati rumah-rumah warga menuju Situr Arca Warak yang tak jauh dari situs ini untuk minum di sumber airnya. Kesan mistis memang sudah dirasakan warga sekitar sejak dulu, bahkan proses pembersihan dan pembukaan situs terbilang masih baru meskipun warga sebenarnya sudah tahu sejak dulu, adalah karena mereka takut bahwa jika pembersihan dan pembukaan areal dilakukan, maka makhluk-makhluk yang ada disana akan marah karena memang sejak lama dibiarkan tanpa diberi “makan” dalam arti pemberian sesaji dan lainnya. Hingga dimasa kini pun, kejadian-kejadian mistis juga masih sering terjadi, seperti suara gamelan yang amat riuh terdengar dari areal Situs Balekambang pada malam-malam tertentu, jika didekati suara tersebut perlahan-lahan seakan menjauh, namun sebaliknya ketika warga berniat kembali dan menjauhi areal situs, suara gamelan tersebut akan terdengar riuh kembali dan seakan mendekat.

Situs Balekambang saat ini sangat terbuka untuk dikunjungi, pengunjung bisa langsung datang ke lokasi atau menemui Juru Pelihara bila memerlukan informasi lebih terkait sejarah atau hal lain seputar situs. Untuk saat ini untuk memasuki Situs Balekambang pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, pun untuk kendaraan cukup dibawa masuk atau diparkir di pinggir jalan tanpa membayar biaya parkir. Letak Situs Balekambang cukup dekat dengan situs-situs lain seperti Arca Warak dan kawasan wisata Penataran sehingga pengunjung bisa mengunjungi beberapa spot wisata yang ada dalam waktu yang berdekatan.

Penulis :

  • Ovelia V.S.A.
  • Rasiq Nidaan K.A.

Informan :

Ari Widodo (28)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Follow by Email
Facebook
Twitter