0 0

Kilas Balik Pagelaran Kresnayana 3 : Budaya, Estetika dan Romansa Sosok Kepemimpinan Kresna

Read Time:4 Minute, 58 Second

Sukses dengan pagelaran Kresnayana 3 “Nggayuh Lintang Nggegem Rembulan” yang diselenggarakan di Gedung Bhakti Budaya, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Blitar pada Sabtu, 3 April 2021 yang turut dihadiri secara langsung oleh Bupati Blitar Ibu Rini Syarifah, Kepala Dinas Parbudpora yakni Bapak Suhendro Winarso, serta tamu undangan lain yang terbatas dikarenakan oleh kondisi pandemi yang mengharuskan ada pembatasan kegiatan masyarakat.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan Kresnayana 3 untuk tetap terselenggara dengan sukses melalui live streaming pada akun Youtube Pemkab Blitar yang pada saat itu belum mencapai 24 jam, angka viewers sudah mencapai 3000 lebih jumlah penonton.

Festival Kresnayana, sebagai pagelaran yang menampilkan cerita kehidupan Sri Kresna dari masa kecil hingga dewasa. Pagelaran ini sendiri merupakan inisiasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Blitar, untuk membuat sebuah festival atau pagelaran yang terinspirasi dari relief cerita Kresnayana yang ada di Candi Induk Penataran. Sesuai dengan namanya, Kresnayana mengangkat cerita kehidupan Kresna sebagai sosok kepemimpinan, dimana hal ini juga menyiratkan sosok spirit masyarakat Blitar sebagai tanah para raja.

Kresnayana 3 dengan lakon Kresna Gugah sukses membuat penonton terpukau dengan penampilan para lakon, cerita yang disampaikan, dan keseluruhan acara yang tersaji secara ringkas namun padat cerita. Hal itu terungkap dalam beberapa komentar dari para penonton Youtube Kresnayana 3 pada akun resmi Pemkab Blitar. Penanggung jawab acara Kresnayana 3 mengatakan “Saya dalam menyampaikan sebuah lakon atau cerita tidak ingin bertele-tele, karena itu akan membuat penonton cepat bosan, terlebih lakon ini diselenggarakan secara online”, kata Dhimaz Anggoro (26).

Dhimaz juga mengatakan bahwa beliau dalam menampilkan sebuah cerita pasti memiliki hikmah atau amanah yang akan disampaikan kepada masyarakat khususnya penonton “Dalam lakon ini, akan berbicara mengenai kedamaian, dimana kondisi dunia terlebih Indonesia saat ini sedang caruk maruk, Kresnayana 3 berupaya untuk menampilan sosok Kresna sebagai tokoh pemimpin yang dapat bertanggung jawab atas kedamaian negaranya atau dunia”.

“Nggayuh Lintang Nggegem Rembulan” sebagai tajuk yang diangkat dalam lakon Kresna Gugah pada Kresnayana 3, selain menjadi judul yang menarik yang menambah rasa penasaran masyarakat, juga memiliki makna filosofis yang menggambarkan isi cerita itu sendiri. Hartono (57), Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Kab. Blitar mengatakan “Dari judul itu mengumpamakan upaya Pandhawa dan Kurawa dalam nggugah Kresna”.

Dhimaz juga menambahkan bahwa Kurawa disini diumpamakan sebagai orang yang hanya bisa berangan-angan nggayuh lintang, sementara jangankan hanya nggayuh lintang, nggegem rembulan pun, Pandhawa mampu melakukannya. Kurawa sebagai orang yang sakti namun memiliki sikap yang tidak bijaksana dan hanya mengedepankan keduniawian pastilah tidak dapat menandingi Pandhawa yang bijaksana dan penuh kehati-hatian dalam mengambil tindakan. Begitupun juga dengan sikap keduanya dalam upaya nggugah Kresna, dimana Kurawa melakukannya dengan cara yang kasar dan tidak pantas, melainkan Pandhawa melakukannya dengan cara yang halus dan penuh pemikiran. Oleh karena dua cara dari Pandhawa dan Kurawa yang saling beroposisi inilah, lakon Kresna Gugah mengangkat judul dari ungkapan yang penuh makna dan simbol yakni “Nggayuh Lintang Nggegem Rembulan”.

Dalam pagelaran Kresnayana 3 yang mengangkat cerita “Kresna Nggugah”, ditampilkan sendratari yang mengangkat cerita Kresna dan benang merahnya dengan Pandawa khususnya Arjuna atau Janaka. Kresna yang risau akan perang adanya Perang Baratayudha, berusaha meminta jawaban dari para Dewa, jikapun nanti ia tak mampu melawan takdir yang telah tertulis, setidaknya ia meminta pertanggungjawaban, bagaimanakan Baratayudha nantinya? Sebab bagaimanapun baik Kurawa maupun Pandawa adalah Saudara, tapi perang diantara keduanya harus tetap terjadi demi kedamainan dunia.

Dengan penuh pertimbangan, Kresna pun berusaha memberi kesempatan pada Kurawa. Kresna memutuskan untuk melakukan Tapa Brata dan merubah wujudnya menjadi Buta atau raksasa agar tidak ada yang tahu bahwa itu adalah dirinya yang tengah menguji Kurawa dan Pandawa. Dalam pertapaannya ia bersumpah,”Sapa sing isa nggugah Kresna, bakal menang Baratayudha”. Nggugah adalah tantangan tersirat yang ia sampaikan, karena nyatanya ia tidak hanya ingin dibangunkan secara lahir, namun juga batin untuk melihat siapa yang benar-benar bijaksana dan layak untuk menjadi pemenang Baratayudha.

Seperti yang diperkirakan, Kurawa yang tidak memiliki pemahaman spiritual dengan baik, berusaha membangunkan Kresna dengan cara yang kasar, dan dari setiap perlakukan kasar yang mereka lakukan itu, Kresna memberikan sumpah dan hukuman balasan yang menyakitkan. Sebenarnya, buta yang nampak duduk bertapa itu hanyalah raga, sebab sukma Sang Kresna tengah naik di kahyangan guna meminta jawaban para Dewa.

Pandawa sebagai representasi dari sosok yang bijaksana, memahami apa yang dimaksudkan Kresna. Arjuna lantas berusaha nggugah buta yang tengah bertapa tersebut dengan cara menyembah, disaat itulah sukma Arjuna turut naik ke kahyangan menyusul Kresna. Dengan penuh percaya diri Arjuna berkata bahwa ia bersama Pandawa akan memenangkan Baratayudha. Untuk menguji kekuatannya, Kresna memintanya untuk bertanding serta membuktikan seberapa kuat dan siap Arjuna menghadapi Baratayudha. Tak lama Kresna meminta Arjuna kembali ke dunia, sukma keduanya kembali ke raga masing-masing dan bersiap untuk Perang Baratayudha, menghadapi Kurawa berserta pasukannya.

“Baratayudha dudu perkara menang kalah, nanging netepi sumpah”, dari cuplikan kutipan pada akhir pagelaran Kresnayana 3 tersebut telah sedikit membocorkan kelanjutan cerita dari lakon Kresna Gugah, dimana memiliki arti bahwa Perang Baratayudha merupakan sebuah takdir yang harus tetap terlaksana mengesampingkan siapa yang akan menang atau kalah dalam perang tersebut. “Baratayudha sido dadi”, yang memiliki arti Perang Baratayudha tetap akan terjadi, menjadi kutipan spoiler dalam akhir pagelaran Kresnayana 3 yang akan berlanjut dalam cerita Kresnayana 4 yang akan menceritakan mengenai Perang Baratayudha antara Pandhawa dan Kurawa.

Kresnayana 3 yang telah hadir secara adaptif berupaya untuk tetap menghidupkan dan melestarikan seni budaya Blitar bagi masyarakat khususnya para pecinta dan pegiat seni. Selain itu melalui pagelaran Kresnayana juga diharapkan dapat mengobati rasa rindu masyarakat akan kegiatan atau pagelaran seni budaya khususnya di Blitar sendiri. Walaupun diselenggarakan dengan cara virtual, cerita, rasa, nuansa dan pesan dari lakon Kresnayana diharapkan dapat tetap tersampaikan dengan baik kepada penonton.

Hartono menyampaikan bahwa pagelaran Kresnayana ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya menyampaikan dan memberikan contoh sikap kepemimpinan dari Sri Kresna kepada masyarakat Blitar pada khususnya, menjadi ajang pelertarian budaya, kegiatan promosi pariwisata dan potensi budaya daerah, serta sebagai upaya pertumbuhan ekonomi terlebih bagi para pegiat seni di masa pandemi.

Penulis :
Ovelia Verninda S.A.
Rasiq Nidaan K.A.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Follow by Email
Facebook
Twitter