0 0

Melestarikan Budaya “Lembaga RBK Wlingi gelar Kegiatan Belajar Macapat di Pedesaan”

Read Time:1 Minute, 13 Second

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, karena pada prakteknya tidak semua tembang macapat bisa dinyanyikan empat-empat suku kata. Kapan munculnya pertama kali macapat, sampai saat ini belum ada penemuan yang meyakinkan. Ada yang menyampaikan bahwa Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam

Ada 11 macam tembang macapat. Beberapa “tutur” dari orang tua menjelaskan bahwa, kesebelas tembang macapat tersebut sebenarnya menggambarkan tahap-tahap kehidupan manusia dari mulai alam ruh sampai dengan meninggalnya. Adapun penjelasan makna kesebelas tembang macapat tersebut adalah: Maskumambang,Mijil,Kinanthi, Sinom, Asmarandana, Gambuh, Dandhanggulo, Durmo, Pangkur, Megatruh, dan Pucung.

Para Seniman dan Budayawan yang ada di Blitar raya sadar akan kemajuan zaman saat ini oleh sebab itu mereka tetap berusaha melestarikan Macapat dengan cara mengadakan kegiatan di tempat-tempat yang berbeda. Dengan tujuan untuk mengenalkan ke daerah yg lebih luas serta membuat banyak anak-anak yang akan tertarik dan melestarikan budaya tersebut.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Follow by Email
Facebook
Twitter