0 0

Museum Penataran  : Museum Sejarah Kebanggan  Masyarakat Blitar

Read Time:5 Minute, 5 Second

Sejarah berdirinya Museum Penataran berawal dari ratusan koleksi benda arkeologi (berjumlah sekitar 142) yang menjadi koleksi milik Bapak Warso Kusumo dan diletakkan di Pendopo Ronggo Hadinegoro (Utara Aloon-aloon Kota Blitar). Hal ini terjadi pada tahun 1866 ketika beliau mulai mengumpulkan dan mengoleksi berbagai benda arkeologi yang berasal dari wilayah Kabupaten Blitar. Pada 1915, museum yang awalnya hanya menyimpan koleksi Bapak Warso Kusumo (Bupati Kab.Blitar pada waktu itu), berubah arti menjadi Museum Blitar sebagai Balai Penyelamat Benda Cagar Budaya di Kabupaten Blitar. Hingga akhirnya pada tahun 1998 Museum Blitar dipindah lokasikan ke Kawasan Wisata Penataran, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, dan berubah nama menjadi Museum Penataran yang berdiri kokoh hingga saat ini dengan koleksi yang terus bertambah dan tidak terbatas pada koleksi benda arkeologis saja.

Pemindahan benda arkeologi dari Pendopo Ronggo Hadinegoro ke Museum Penataran pada bulan Juni 1998 tersebut dilakukan dengan cara unik sekaligus sakral yakni dengan diiringi gamelan Kebo Giro atau “Klenengan” dalam bahasa setempat. Setiap benda arkeologi yang dipindahkan harus terus diiringi dengan musik klenengan mulai dari pengangkatan, pemindahan, hingga diletakkan ke dalam museum. Seluruh benda arkeologi juga harus dibungkus menggunakan kain mori atau kafan satu persatu. Karena banyaknya jumlah koleksi, proses pemindahan memerlukan waktu yang cukup lama yakni mulai dari pukul 7 pagi hingga tengah malam. Arca-arca ini dipindahkan dari lokasi awal dengan menggunakan beberapa mobil pick-up, dengan terus diiringi musik Klenengan sepanjang perjalanan hingga tiba ke Museum Penataran.

Iringan Klenengan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan penghormatan serta perlakuan baik terhadap benda-benda koleksi arkeologi, agar pemindahan dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari marabahaya (rusaknya benda arkeologi). Proses ini pun berhasil menyita perhatian masyarakat sehingga mereka beramai-ramai mengunjungi Museum Penataran di hari berikutnya.

Agastya, arca yang tak ingin dipindahkan

   

Tidak berselang lama setelah pemindahan koleksi dari Pendopo RHN ke Museum Penataran, ada satu kejadian unik yang menyita perhatian masyarakat Blitar. Dari sekian banyak koleksi arkeologi yang telah dipindahkan ke Museum Penataran, terdapat satu arca bernama Agastya yang dikembalikan ke tempat asalnya. Menurut keterangan dari informan, peristiwa ini terjadi tak lama setelah proses pemindahan koleksi museum yang dilakukan pada bulan Juni 1998, sehingga kurang lebih 3 bulan setelahnya yakni pada bulan September 1998, arca Agastya  dikembalikan ke tempat asalnya yaitu Pendopo Ronggo Hadinegoro.

Menurut pengakuan dari beberapa juru kunci yang turut merawat arca ini, mereka mendapatkan petunjuk spiritual melalui mimpi dan firasat yang kuat bahwa arca ini tidak ingin diletakkan di Museum Penataran agar tetap dapat mejaga lingkungan Pendopo RHN. Sehingga jika arca tersebut dipindahkan, dipercayai akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada pendopo. Secara filosofis Arca Agastya adalah lambang kemakmuran dan keseimbangan, oleh karenanya keberadaan arca tersebut di kawasan Pendopo RHN sangatlah penting.

Dengan alasan ini pula, Arca Agastya di Pendopo RHN mendapatkan perlakuan khusus untuk menghormati dan menjaga keberadaannya berupa pembersihan, pemberian cok bakal atau sesajen serta dupa yang dibakar. Saat ini Arca Agastya diletakkan di sisi barat Pendopo RHN (belakang kantor SATPOL PP) dengan atap dan pagar pelindung yang mengelilinginya.

Koleksi ikonik Museum Penataran

Dari berbagai koleksi yang ada, Museum Penataran memiliki koleksi ikonik yang menambah nilai keunikan dari Museum itu sendir, koleksi tersebut berupa arca diantaranya adalah Trimurti dan Dewi Durga. Arca Trimurti yang terdiri dari 3 Dewa tertinggi kepercayaan Hindu diantaranya yakni Siwa, Wisnu, dan Brahma yang ada di Museum Penataran dapat terbilang langka dan unik atau berbeda dari koleksi Trimurti lain. Biasanya, koleksi Trimurti di museum daerah lainnya tidaklah lengkap dan hanya terdiri dari satu atau dua dari keseluruhan unsur Trimurti. Berbeda dengan Trimurti yang dimiliki Museum Penataran, arca tersebut masih tersaji secara lengkap dan utuh dengan pola/gambar pahatan yang masih jelas. Saat ini Arca Trimurti diletakan secara berjajar di sebelah utara menghadap timur, sehingga pengunjung dapat melihat ketiga arca Trimurti ini secara mudah dan menyeluruh.

Dalam kepercayaan Hindhu, Trimurti adalah dewa tertinggi dan utama,  ketiganya memiliki tugas yang berbeda namun menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena merupakan bagian dari kekuatan Brahman dimana Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur alam semesta.

Tidak jauh dari koleksi arca Trimurti, Museum Penataran juga memiliki koleksi lain yang tidak kalah ikonik yakni arca Dewi Durga Mahisasuramardini yang berukuran 161,2 x 62 centimeter dan nampak cantik dengan pola ukiran dan pahatan yang masih jelas. Arca ini menjadi ikon utama Museum Penataran dan diletakkan di sisi utara museum menghadap arah selatan.

Secara mitologi sosok Durga dalam arca ini adalah Dewi yang sakti dengan tugas utama membinasakan  asura. Sosok  Durga dengan penamaan Durga Mahisasuramardini memiliki arti “Durga sang penakluk raksasa kerbau”. Nama Durga memiliki arti benteng pertahanan, karenanya Dewi Durga dipuja sebagai upaya untuk mendapat perlindungan dari segala musuh dan ancaman. Begitupun dengan Arca Durga Mahisasuramardini yang ada di Museum Penataran, diyakini bahwa fungsi utamanya di masa lalu adalah sebagai media pemujaan bagi penganut Hindhu.

Dalam kepercayaan Hindhu, Trimurti adalah dewa tertinggi dan utama,  ketiganya memiliki tugas yang berbeda namun menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena merupakan bagian dari kekuatan Brahman dimana Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur alam semesta.

Tidak jauh dari koleksi arca Trimurti, Museum Penataran juga memiliki koleksi lain yang tidak kalah ikonik yakni arca Dewi Durga Mahisasuramardini yang berukuran 161,2 x 62 centimeter dan nampak cantik dengan pola ukiran dan pahatan yang masih jelas. Arca ini menjadi ikon utama Museum Penataran dan diletakkan di sisi utara museum menghadap arah selatan.

Secara mitologi sosok Durga dalam arca ini adalah Dewi yang sakti dengan tugas utama membinasakan  asura. Sosok  Durga dengan penamaan Durga Mahisasuramardini memiliki arti “Durga sang penakluk raksasa kerbau”. Nama Durga memiliki arti benteng pertahanan, karenanya Dewi Durga dipuja sebagai upaya untuk mendapat perlindungan dari segala musuh dan ancaman. Begitupun dengan Arca Durga Mahisasuramardini yang ada di Museum Penataran, diyakini bahwa fungsi utamanya di masa lalu adalah sebagai media pemujaan bagi penganut Hindhu.

Penulis :

  • Ovelia V.S.A.
  • Rasiq Nidaan K.A.

 

Daftar informan:

Ki Waris Risanto (69)

Bu Sri (48).

 

Daftar pustaka :

Rahadi, dkk. (2020). Kajian Koleksi Museum Penataran. Yogyakarta: CV Padma.

Tang, Norasmah Binti A. (2010). Trinitas Dalam Kristen Protestan dan Trimurti Dalam Hindu. Riau: Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim.

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Follow by Email
Facebook
Twitter